pafipcmenteng.org – Komunitas lari pernah identik dengan kaus basah keringat, obrolan receh, serta napas ngos-ngosan yang justru terasa memerdekakan. Kini, suasananya perlahan berubah. Di banyak kota, kumpul pelari berubah rupa menjadi karnaval sepatu edisi terbatas, jam lari jutaan rupiah, juga jersey keluaran terbaru. Bukan lagi sekadar temu kawan yang saling menyemangati, melainkan ajang menilai siapa terlihat paling kece di garis start.
Fenomena ini memunculkan kegelisahan. Komunitas lari seharusnya memberikan ruang aman bagi siapa pun yang baru mulai melangkah, bukan hanya untuk pelari bergear mahal. Namun cerita lapangan justru menunjukkan gejala berbeda. Ada yang merasa minder karena sepatu murahan. Ada pula yang hengkang karena lelah dibanding-bandingkan. Di titik ini, penting membedah ulang arah komunitas lari: masih waras merayakan kesehatan, atau sudah terjebak budaya pamer?
Komunitas Lari: Dari Ruang Inklusif Jadi Klub Eksklusif?
Awalnya, komunitas lari tumbuh dari kebutuhan sederhana: butuh teman agar rajin bergerak. Jam latihan fleksibel, atur rute bareng, lalu sarapan bersama setelahnya. Banyak pelari pemula merasa terbantu karena tidak perlu lari sendirian. Motivasi meningkat, kesehatan membaik, hubungan sosial pun terbentuk. Filosofi utamanya jelas, berkeringat bersama lebih menyenangkan daripada berjuang sendirian.
Namun pelan, atmosfer komunitas lari berubah sejak merek besar melihat potensi pasar. Event sponsor bermunculan, gear canggih diburu, juga konten media sosial mengalir deras. Setiap sesi lari terasa seperti sesi pemotretan. Fokus bergeser dari progres fisik ke penampilan visual. Tidak ada yang salah dengan tampil rapi. Masalah muncul saat tampilan menjadi tolok ukur utama penerimaan di kelompok.
Gairah konsumtif akhirnya menyusup ke jantung komunitas lari. Obrolan di grup sering didominasi diskusi produk terbaru, bukan teknik latihan atau tips pemulihan. Anggota yang tidak sanggup mengikuti tren perlahan merasa tersisih. Di sini, komunitas lari yang seharusnya menyehatkan justru berpotensi menciptakan stres sosial. Ironis, karena tujuan awal olahraga adalah melepas tekanan, bukan menambah beban.
Toxic Positivity, Flexing Gear, dan Luka Tak Terlihat
Toxic di komunitas lari tidak selalu muncul melalui kata-kata kasar. Kadang muncul lewat komentar halus, namun menggigit rasa percaya diri anggota lain. Misalnya kalimat, “Lari pakai sepatu itu tidak takut cedera?” atau “Serius mau ikut half marathon pakai jam non-GPS?” Sekilas terdengar biasa, tapi bila diulang terus, bisa menumbuhkan rasa tidak layak bagi pelari berbudget terbatas.
Fenomena flexing gear juga terlihat jelas di banyak pertemuan komunitas lari. Foto grup ramai, captionnya lebih ramai lagi membahas merek, seri, serta harga perlengkapan. Bagi anggota mapan, mungkin itu bentuk kebanggaan atas hasil kerja keras. Namun bagi pelari yang masih berjuang menata finansial, tontonan tersebut mudah berubah jadi tekanan. Mereka mulai merasa tidak cukup keren untuk tetap hadir.
Sebagai pengamat sekaligus pelari rekreasional, saya melihat luka tak terlihat ini perlu dibahas jujur. Kita sering membela diri dengan kalimat, “Ah, cuma bercanda, jangan baper.” Padahal, komunitas lari ideal justru peka terhadap perasaan anggota paling pendiam. Jika candaan berulang membuat seseorang enggan datang lagi, berarti ada pola yang harus dibenahi. Bukan perasaan orangnya yang terlalu tipis, melainkan budaya kelompok yang perlu dikoreksi.
Mengembalikan Komunitas Lari ke Esensi Sehat dan Saling Dukung
Solusi bukan melarang gear mahal, melainkan mengubah cara komunitas lari memaknai perlengkapan tersebut. Gear seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan tiket status sosial. Pengurus kelompok bisa mulai dengan menyusun aturan tak tertulis: puji usaha, bukan harga barang. Soroti progres jarak, kualitas istirahat, konsistensi hadir, serta keberanian pemula. Adakan sesi edukasi teknik lari ramah pemula, bukan hanya review produk anyar. Dengan begitu, komunitas lari kembali menjadi rumah nyaman bagi semua langkah, entah memakai sepatu ratusan ribu maupun jutaan rupiah. Di ujung perjalanan, medali paling berharga bukanlah finisher medal, melainkan kemampuan menjaga hati tetap rendah, komunitas tetap inklusif, juga hubungan antarpelari tetap sehat.

