pafipcmenteng.org – Kasus radikalisme tidak lagi hanya menyasar orang dewasa. Densus 88 berkali-kali menemukan anak di bawah umur ikut terlibat jejaring teror, dari sekadar simpatisan sampai pelaku. Fakta ini membuat banyak orang tua panik, namun sering bingung harus mulai menjaga dari mana. Di titik inilah, pemahaman pola pikir anak, literasi digital, serta pendekatan psikologis seperti hipnoterapi menjadi relevan sebagai upaya pencegahan, bukan sekadar pemulihan saat semuanya sudah terlambat.
Perubahan perilaku anak kerap terasa tiba-tiba, padahal sebenarnya bertahap. Proses internalisasi ide ekstrem berjalan halus, lewat konten, percakapan, juga komunitas virtual. Densus 88 menegaskan, akan jauh lebih efektif bila keluarga mampu membaca tanda sejak awal. Artikel ini mengulas ciri-ciri anak yang telah terpapar ekstremisme, menjelaskan jebakan pola pikir hitam-putih, hingga membahas bagaimana hipnoterapi dapat membantu meluruskan kembali keyakinan tanpa merusak identitas dan martabat anak.
Memahami Pola Rekrutmen dan Paparan Ekstremisme pada Anak
Ekstremisme modern jarang bekerja lewat ancaman fisik secara langsung. Rekrutmen lebih sering memakai pendekatan emosional, narasi kepahlawanan, serta rasa memiliki. Anak yang kesepian atau merasa tersisih menjadi target empuk. Mereka ditawari identitas baru: pejuang kebenaran, pembela agama, atau pahlawan bangsa. Densus 88 berulang kali menemukan pola tersebut ketika memeriksa gawai, riwayat obrolan, juga rekaman aktivitas media sosial pelaku muda.
Bahaya utama ekstremisme bukan hanya ajakan kekerasan, tetapi cara berpikir tertutup. Anak diajari membenci kritik, menolak dialog, serta mengidolakan figur tertentu secara buta. Dunia dipersempit menjadi dua kubu: mereka yang sejalan dianggap suci, sisanya dicap musuh. Di fase ini, argumen logis sering percuma, karena emosi sudah terikat kuat. Di sinilah peran pendekatan psikologis, termasuk hipnoterapi, masuk sebagai cara menembus lapisan emosi terdalam yang sulit tersentuh nasihat biasa.
Sebagai penulis, saya melihat ekstremisme sebagai gejala kompleks. Ada faktor ekonomi, sosial, keagamaan, juga luka psikologis. Menyederhanakan masalah menjadi sekadar kurang iman atau salah pergaulan membuat solusi jadi dangkal. Justru perlu sinergi: aparat, sekolah, keluarga, komunitas, hingga praktisi seperti konselor, psikolog, termasuk terapis hipnoterapi. Ketika ranah hukum, pendidikan, serta terapi berjalan beriringan, peluang anak keluar dari lingkar radikal menjadi jauh lebih besar.
Ciri-Ciri Anak Terpapar Ekstremisme Menurut Kacamata Psikologis
Salah satu indikasi awal paparan ekstremisme terlihat dari perubahan pola bicara. Anak mulai sering mengutip istilah keagamaan keras, mengomentari orang lain sebagai kafir, sesat, atau munafik. Nada suara terdengar lebih menghakimi. Humor yang dulu disenangi mendadak dianggap dosa. Mereka gemar mengutip dalil secara sepotong lalu menolak pendapat berbeda. Secara psikologis, ini menandakan filter kognitif sudah menyempit ke arah satu doktrin saja.
Indikasi lain berupa jarak emosional dengan keluarga. Anak yang sebelumnya dekat dengan orang tua tiba-tiba tertutup. Mereka mengunci ponsel, menghapus riwayat obrolan, menolak diajak diskusi santai. Kadang muncul kalimat sinis seperti, “Ayah Ibu belum paham kebenaran.” Pola ini sering dimanfaatkan perekrut, karena memutus pengaruh keluarga membuat kontrol doktrin jauh lebih mudah. Hipnoterapi, bila dilakukan hati-hati, dapat membantu mengurai konflik batin ini, membangun kembali rasa percaya tanpa memaksa.
Dari sisi kebiasaan, konsumsi media berubah drastis. Anak mulai aktif di kanal ceramah keras, grup tertutup, forum yang menormalisasi kekerasan. Gambar bendera kelompok radikal, senjata, serta tokoh tertentu muncul di galeri ponsel. Kadang mereka mulai belajar merakit sesuatu, mencari tutorial mencurigakan. Densus 88 menilai jejak digital sebagai sumber data penting. Sementara itu, praktisi hipnoterapi bisa memakai informasi tersebut untuk memahami narasi apa saja yang sudah tertanam, lalu merancang sugesti korektif yang relevan dengan realitas anak.
Hipnoterapi sebagai Pendekatan Alternatif Mengurai Radikalisasi
Hipnoterapi kerap disalahpahami seolah-olah membuat seseorang patuh tanpa sadar. Padahal, praktik profesional justru menegaskan, klien tetap memegang kendali moral. Pada kasus anak terpapar ekstremisme, hipnoterapi bukan sekadar “menghapus” keyakinan, tetapi membantu menelusuri luka emosional yang membuat anak rentan terhadap doktrin keras: rasa gagal, kehilangan, penolakan sosial, hingga trauma masa kecil. Melalui kondisi relaksasi mendalam, terapis memandu anak meninjau kembali makna ajaran kekerasan yang ia yakini. Sugesti positif kemudian menekankan nilai empati, kasih sayang, serta tanggung jawab sosial. Pendekatan ini, bila digabungkan konseling keluarga dan pendampingan keagamaan moderat, memberi peluang nyata melembutkan cara pandang tanpa merendahkan martabat anak sebagai individu yang sedang mencari jati diri.
Peran Keluarga sebagai Benteng Pertama terhadap Radikalisasi
Rumah seharusnya menjadi ruang aman, tetapi sering justru penuh konflik. Terlalu banyak teriakan, minim pelukan. Pola asuh keras, hukuman fisik, serta kehangatan emosional rendah membuat anak mencari pelarian. Perekrut ekstremis paham betul celah ini. Mereka hadir sebagai “keluarga baru” yang menawarkan validasi, pujian, juga perhatian. Bila keluarga tidak segera berbenah, maka edukasi apa pun dari sekolah akan kalah oleh rayuan identitas pahlawan yang disodorkan jaringan radikal.
Komunikasi terbuka menjadi kunci. Orang tua perlu membiasakan tanya rasa, bukan cuma tanya nilai rapor. Menemani anak menonton konten agama lalu berdiskusi santai akan jauh lebih efektif daripada sekadar melarang. Ketika anak menyampaikan pandangan keras, jangan langsung dimarahi. Tanyakan sumbernya, apa yang membuat ia tertarik, bagaimana perasaannya. Pendekatan penuh rasa ingin tahu ini membuka pintu dialog. Pada titik tertentu, bila terlihat ada keyakinan mengeras, intervensi profesional seperti konseling atau hipnoterapi dapat dipertimbangkan.
Dari sudut pandang saya, banyak orang tua merasa takut dengan istilah hipnoterapi karena bayangan acara hiburan. Padahal, hipnoterapi klinis bekerja memakai kaidah etika dan ilmu psikologi. Dalam konteks pencegahan ekstremisme, tujuannya bukan mencuci otak, tapi membantu anak mengelola emosi, rasa marah, juga kekecewaan pada lingkungan. Saat batin lebih tenang, kemampuan berpikir kritis meningkat. Anak menjadi lebih tahan terhadap narasi kebencian yang beredar bebas di media sosial.
Media Sosial, Algoritma, dan Kecepatan Penyebaran Paham Kekerasan
Algoritma media sosial dirancang memanjakan preferensi pengguna. Begitu seorang anak menyukai satu konten bertema kekerasan atas nama agama, sistem otomatis menawarkan konten mirip berkali-kali. Tanpa sadar, linimasa berubah menjadi ruang gema. Sudut pandang berbeda menghilang. Di sinilah radikalisasi sunyi terjadi: perlahan, konsisten, tetapi terasa wajar. Bagi Densus 88, pola ini sudah menjadi fakta sehari-hari saat melakukan penelusuran digital terhadap simpatisan baru.
Anak juga sering menganggap komunitas di grup tertutup lebih mengerti mereka daripada keluarga. Diskusi panjang, panggilan saudara seiman, serta pujian terus-menerus menciptakan ikatan kuat. Saat ada ajakan tindakan ekstrem, mereka sudah terlanjur merasa berutang loyalitas. Memutus keterlibatan pada tahap ini amat sulit bila hanya memakai ceramah satu arah. Pendekatan terstruktur, termasuk hipnoterapi yang memfokuskan diri pada koreksi makna, dapat membantu anak menyadari bahwa kasih sayang tidak harus diwujudkan melalui kekerasan.
Pendidikan literasi digital belum menyentuh dimensi emosional secara cukup. Anak diajari cara memverifikasi informasi, tetapi jarang diajari mengelola rasa marah atau kecewa ketika melihat ketidakadilan. Di ruang kosong inilah propaganda brutal menyelinap, menawarkan jalan pintas balas dendam. Menurut saya, perlu ada kolaborasi lintas profesi: pakar keamanan siber, guru, psikolog, juga praktisi hipnoterapi yang menguasai teknik penanaman ulang nilai, agar anak punya perisai batin sekaligus kecakapan digital yang lebih matang.
Membangun Ekosistem Pencegahan yang Lebih Manusiawi
Mencegah radikalisasi anak bukan sekadar urusan polisi atau Densus 88. Ini mandat kolektif: keluarga, sekolah, komunitas agama, lembaga terapi, hingga platform digital. Pendekatan yang hanya menonjolkan hukuman akan memproduksi ketakutan, namun tidak selalu menyentuh akar masalah. Kita perlu ekosistem yang menggabungkan ketegasan hukum, kehangatan keluarga, pendidikan moderat, juga layanan psikologis seperti hipnoterapi yang menghormati kebebasan berpikir anak. Bukan untuk membungkam keyakinan, melainkan mengarahkan semangat mencari kebenaran ke jalur konstruktif. Bila setiap anak ditemani bertumbuh dengan rasa aman, didengar, serta dimampukan mengelola emosi, ide ekstrem akan kehilangan daya tariknya. Refleksi akhirnya kembali ke kita sendiri: seberapa siap kita menghadirkan rumah, sekolah, dan masyarakat yang cukup hangat, hingga anak tak perlu mencari pelukan di pelukan ideologi kebencian?

