Hari Gizi Nasional: Mengulik Bahaya Tersembunyi UPF
pafipcmenteng.org – Hari gizi nasional selalu diperingati sebagai momentum refleksi cara makan masyarakat Indonesia. Namun perayaan ini akan terasa hampa bila kita menutup mata terhadap ledakan konsumsi makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF). Produk serba praktis ini menguasai rak minimarket hingga menu sehari-hari, dari sarapan cepat saji hingga camilan larut malam. Di balik rasa lezat serta kemasan menarik, UPF membawa konsekuensi serius bagi kesehatan jangka panjang.
Peringatan hari gizi nasional seharusnya menggeser fokus publik, bukan sekadar pada isi piring sehat, tetapi juga tingkat proses pengolahan makanan. Masyarakat sering menganggap semua makanan berlabel modern itu setara, padahal UPF berbeda jauh dari bahan segar. Melalui tulisan ini, saya mengajak pembaca mengupas sisi gelap UPF, menghubungkannya dengan realitas gizi di Indonesia, sekaligus menawarkan langkah konkret agar perayaan hari gizi nasional benar-benar menghadirkan perubahan.
Hari gizi nasional awalnya digagas untuk mengurangi masalah kurang gizi. Kini tantangan bertambah kompleks karena gizi berlebih ikut meningkat. Anak dengan berat badan berlebih dapat hidup serumah bersama saudara yang stunting. Fenomena ini mencerminkan pola makan tidak seimbang, tinggi energi namun miskin zat gizi. UPF memainkan peran besar, sebab sering menggantikan makanan rumahan, terutama di keluarga urban yang sibuk.
UPF biasanya dibuat dari bahan hasil ekstraksi industri, seperti tepung halus, gula tambahan, sirup fruktosa, minyak terhidrogenasi, serta aneka aditif. Proses panjang menghilangkan serat, vitamin, serta mineral penting. Produk dipoles rasa gurih, manis, atau creamy agar sangat menggugah selera. Saat hari gizi nasional mengangkat tema hidup sehat, fakta ini perlu terus diulang. Tanpa kesadaran kritis terhadap komposisi makanan, kampanye gizi hanya akan berhenti pada poster cantik.
Peringatan hari gizi nasional seharusnya menjadi panggung edukasi masif mengenai perbedaan makanan segar, olahan minimal, dan ultra proses. Masih banyak orang mengira mi instan plus sosis sudah cukup bergizi karena mengandung karbohidrat serta protein. Padahal kualitas proteinnya rendah, lemak jenuh cenderung tinggi, juga natrium melampaui batas wajar. Di titik ini, pendekatan edukasi perlu jujur sekaligus empatik. Merendahkan pilihan makanan masyarakat tidak membantu, yang lebih penting ialah membangun pemahaman perlahan namun konsisten.
Kunci dominasi UPF terletak pada tiga hal: praktis, murah tampak di permukaan, juga dipromosikan agresif. Di kota besar, orang berangkat kerja sebelum matahari terbit lalu pulang setelah gelap. Memasak sayur segar terasa menguras tenaga. Sementara itu, satu bungkus makanan beku siap goreng dapat tersaji hanya beberapa menit. Pada hari gizi nasional, narasi seputar gizi wajib mempertimbangkan realitas sosial seperti ini, bukan sekadar menyuruh orang memasak dari nol.
Selain faktor waktu, lidah kita pun dilatih menyukai rasa intens dari UPF. Kombinasi gula, garam, serta lemak diracik pada titik paling memikat otak, sering disebut sebagai bliss point. Otak lalu terpicu mencari sensasi serupa lagi. Kebiasaan ini menggeser selera terhadap makanan sederhana, misalnya pepaya segar atau sayur bening terasa kurang menarik. Inilah jebakan halus yang jarang dibicarakan ketika hari gizi nasional hanya menekankan empat sehat lima sempurna tanpa menyentuh aspek perilaku makan modern.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat masalah UPF bukan semata urusan pilihan individu, melainkan hasil struktur ekonomi dan budaya. Iklan menempel di mana-mana, paket promo muncul di gawai sepanjang hari, sementara harga buah segar relatif tinggi di beberapa daerah. Ketimpangan akses tersebut membuat pesan hari gizi nasional terdengar idealis bagi banyak keluarga. Oleh sebab itu, solusi perlu menyentuh kebijakan harga, tata niaga pangan, serta regulasi iklan, bukan sekadar menyalahkan konsumen.
Penelitian internasional maupun nasional menunjukkan hubungan kuat antara konsumsi UPF tinggi dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, juga penyakit jantung. Asupan gula tambahan serta lemak trans memicu peradangan kronis, sementara kekurangan serat mengganggu kesehatan usus. Pada anak, pola makan serba UPF berkaitan dengan gangguan konsentrasi, pola tidur tidak teratur, serta kebiasaan ngemil berlebihan. Bila fenomena ini terus berlanjut, hari gizi nasional beberapa dekade mendatang mungkin akan dipenuhi laporan generasi rentan penyakit kronis sejak usia produktif. Karena itu, momentum hari gizi nasional perlu diarahkan untuk mendorong transformasi nyata: menata ulang isi dapur, menghidupkan kembali masakan rumahan, mendorong industri berinovasi ke produk olahan lebih sehat, serta menuntut pemerintah menghadirkan regulasi berpihak pada kesehatan publik. Refleksi pribadi saya sederhana: mengurangi UPF bukan berarti menolak modernitas, namun memilih masa depan lebih waras bagi tubuh, keluarga, serta bangsa.
pafipcmenteng.org – Kasus terhentinya terapi untuk sekitar 160 pasien cuci darah akibat status pbi bpjs…
pafipcmenteng.org – Isu pbi nonaktif kembali jadi perbincangan hangat, terutama selepas sebuah video viral yang…
pafipcmenteng.org – Demam berdarah dengue tidak lagi identik dengan penyakit anak. Dalam beberapa tahun terakhir,…
pafipcmenteng.org – Banyak orang langsung meraih kopi atau teh begitu bangun tidur. Padahal, ada kebiasaan…
pafipcmenteng.org – Kabar bahwa setiap dua menit satu warga Indonesia meninggal akibat kanker seharusnya mengguncang…
pafipcmenteng.org – Ketika membahas tumbuh kembang gigi anak, banyak orang tua lebih fokus pada pasta…