pafipcmenteng.org – Banjir besar di Aceh kembali menyisakan duka panjang, terutama bagi anak-anak. Rumah terendam, sekolah lumpuh, benda kesayangan hilang tersapu arus. Namun luka terdalam kerap tidak tampak kasat mata, sebab tertanam di benak mereka. Di sinilah peran trauma healing menjadi krusial, bukan sekadar hiburan sesaat, melainkan jembatan pemulihan batin anak setelah bencana.
Di sejumlah pos pengungsian, relawan menginisiasi trauma healing dengan pendekatan kreatif. Mereka mengajak anak bermain, menggambar, bercerita, hingga bernyanyi bersama. Aktivitas sederhana itu tampak seperti permainan biasa, padahal menyimpan misi besar: membantu anak mengelola rasa takut, mengurai kecemasan, serta menata kembali rasa aman. Dari momen kecil inilah, harapan baru tumbuh perlahan.
Mengapa Trauma Healing Penting Setelah Banjir?
Sering kali fokus penanganan bencana terpusat pada logistik. Makanan, pakaian, dan tenda darurat memang mendesak. Namun tanpa trauma healing, anak berisiko membawa ingatan traumatis hingga dewasa. Misalnya sulit tidur ketika hujan turun, mudah kaget mendengar suara deras air, atau menolak kembali ke rumah yang dulu tergenang. Luka psikologis semacam itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Banjir menghancurkan rutinitas anak secara tiba-tiba. Tiba-tiba harus tinggal di pengungsian, terpisah dari sebagian teman, kehilangan ruang bermain. Trauma healing membantu mereka membangun kembali rasa kendali atas hidup. Melalui aktivitas terstruktur, anak diajak mengenali emosi, menyebutkan ketakutan, serta memproses pengalaman buruk dengan cara aman. Pemulihan psikologis ini menentukan kualitas masa depan mereka.
Dari sudut pandang saya, sudah saatnya trauma healing dipandang setara dengan bantuan fisik. Kerusakan bangunan bisa diperbaiki lewat beton dan kayu, sedangkan kerusakan rasa aman butuh empati, waktu, serta konsistensi. Relawan di Aceh telah menunjukkan bahwa program sederhana pun bisa berdampak besar. Pertanyaannya, apakah kita mau menjadikannya bagian baku dari setiap respon bencana, bukan sekadar inisiatif sesaat?
Momen Menyentuh di Posko Pengungsian Aceh
Bayangkan suasana sebuah posko pengungsian di Aceh setelah banjir surut. Lantai tenda lembap, pakaian korban menumpuk di sudut, suara orang dewasa membicarakan data bantuan. Di tengah hiruk pikuk itu, sekumpulan anak duduk melingkar bersama relawan trauma healing. Mereka memegang krayon warna-warni, bersiap menorehkan cerita di atas kertas putih. Momen ini mungkin tampak biasa, namun sebenarnya sangat istimewa.
Seorang relawan meminta anak menggambar hal paling mereka ingat saat banjir datang. Ada yang menggambar rumah terendam, ada juga perahu karet milik tim SAR. Beberapa anak memilih menggambar pelangi, seakan ingin melompat ke bagian cerita yang lebih cerah. Dari sini relawan membaca sinyal emosional. Goresan gelap pekat, bentuk air besar, atau wajah tanpa senyum memberi petunjuk mengenai beban psikologis yang belum terucap melalui kata-kata.
Menurut saya, momen semacam ini adalah jantung program trauma healing. Relawan bukan hanya mengajak bermain, melainkan mendampingi proses anak menghadapi ingatan sulit. Bukan memaksa lupa, tetapi mengajak mereka memahami bahwa rasa takut sah untuk dirasakan, sekaligus dapat diolah. Di tengah keterbatasan fasilitas, hubungan hangat antara relawan dan anak menjadi ruang aman baru yang menggantikan rumah sementara waktu.
Peran Relawan: Lebih dari Sekadar Penghibur
Banyak orang mengira relawan trauma healing hanya bertugas menghibur. Padahal peran mereka jauh lebih kompleks. Mereka harus peka membaca ekspresi anak, mampu menyeimbangkan keceriaan dengan empati, serta menjaga agar aktivitas tetap menyenangkan namun tidak memicu ulang trauma. Hal ini menuntut kesiapan emosional, bukan hanya semangat menolong.
Relawan juga berperan sebagai jembatan antara anak dan orang tua. Dari hasil aktivitas trauma healing, mereka dapat memberi masukan sederhana kepada keluarga, misalnya cara menenangkan anak ketika malam tiba. Saran praktis seperti rutinitas doa bersama, membacakan cerita, atau mengajak anak menuliskan perasaan cukup membantu menjaga kestabilan emosi mereka. Kekuatan pemulihan sering lahir dari kolaborasi baik antara relawan dan keluarga.
Dari kacamata pribadi, saya melihat relawan di Aceh mempraktikkan bentuk kepedulian yang sangat konkret. Mereka hadir secara fisik sekaligus emosional. Mereka mau duduk di lantai becek, mendengar keluh kesah yang berulang, serta mengulang permainan sama agar anak merasa nyaman. Sikap konsisten semacam ini menjadikan trauma healing tidak sekadar program formal, melainkan pengalaman hangat yang tertanam kuat di ingatan anak.
Metode Kreatif Trauma Healing untuk Anak
Metode trauma healing di pengungsian Aceh memanfaatkan banyak pendekatan kreatif. Permainan kelompok, misalnya, dipakai untuk mengembalikan rasa kebersamaan. Anak diajak bekerja sama menyusun balok, memindahkan bola, atau memainkan permainan tradisional. Aktivitas ini mengajarkan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi ketakutan. Kebersamaan membantu memulihkan rasa percaya terhadap lingkungan sekitar.
Kegiatan menggambar dan mewarnai memberi ruang aman bagi anak untuk menyalurkan emosi. Tidak semua anak cakap bercerita lewat kata-kata, namun mereka mampu menceritakan banyak hal lewat gambar. Sementara itu, sesi bercerita dan bernyanyi membantu menyalurkan energi cemas menjadi ekspresi verbal maupun vokal. Lagu dengan lirik harapan mampu memberikan sugesti positif, meski situasi belum sepenuhnya pulih.
Dari sisi analisis, metode kreatif sangat cocok untuk konteks darurat. Sarana mudah disiapkan, tidak memerlukan ruang luas, serta dapat menyesuaikan usia anak. Namun program trauma healing idealnya tidak berhenti pada beberapa sesi saja. Tantangannya terletak pada kesinambungan. Perlu koneksi antara relawan, sekolah, serta lembaga lokal, agar praktik penyembuhan batin terus berjalan bahkan setelah berita banjir surut dari media.
Pelajaran Penting bagi Penanganan Bencana ke Depan
Pengalaman trauma healing anak korban banjir Aceh memberi banyak pelajaran. Bencana bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga soal hancurnya rasa aman. Relawan telah menunjukkan bahwa pendekatan lembut, kreatif, serta penuh empati mampu menyentuh lapisan terdalam luka psikologis anak. Ke depan, integrasi bantuan material dengan pendampingan emosional harus menjadi standar, bukan penggembira. Kita perlu mendorong pelatihan relawan trauma healing, menyusun panduan praktis berbasis lokal, serta memastikan keberlanjutan program lewat peran sekolah, guru, dan komunitas. Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan bencana diukur bukan hanya dari rumah yang kembali berdiri, melainkan dari senyum anak yang perlahan pulih, tidur lebih nyenyak, serta berani memandang hujan tanpa lagi dikejar rasa panik. Di situlah makna sejati pemulihan; bukan sekadar bangkit, melainkan tumbuh kembali dengan bekal ketangguhan baru.

