RSUD Aceh Tamiang Bangkit Usai Banjir Bandang
pafipcmenteng.org – RSUD Aceh Tamiang baru saja melewati ujian berat ketika banjir bandang melumpuhkan layanan medis penting untuk ribuan warga. Rumah sakit rujukan utama di perbatasan Aceh–Sumatra Utara itu sempat berhenti beroperasi akibat air bah yang menggenangi fasilitas vital, merusak peralatan, serta memutus akses pasien. Kini, rsud aceh tamiang perlahan bangkit, membuka kembali pelayanan, sekaligus menunjukkan betapa rapuhnya sistem kesehatan daerah saat berhadapan dengan bencana alam.
Kembalinya aktivitas rsud aceh tamiang bukan sekadar kabar teknis mengenai layanan kesehatan yang pulih. Momen ini menjadi cermin kesiapan kita menghadapi krisis iklim, penataan ruang, juga manajemen bencana di wilayah rawan banjir. Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas bagaimana rumah sakit ini bangkit, apa pelajaran penting yang bisa dipetik, serta mengapa revitalisasi rsud aceh tamiang layak dipandang sebagai momentum memperkuat ketahanan layanan kesehatan daerah.
Banjir bandang yang menghantam wilayah Aceh Tamiang datang cepat, membawa material lumpur, kayu, serta sampah. Kompleks rsud aceh tamiang tidak luput dari terjangan, bahkan beberapa bangunan utama tergenang hingga setinggi lutut orang dewasa. Aliran listrik padam, jalur evakuasi ikut terganggu, sementara staf medis harus memutuskan prioritas antara menyelamatkan berkas pasien, obat-obatan, atau peralatan yang harganya miliaran rupiah.
Ketika situasi kian gawat, manajemen rsud aceh tamiang menghentikan sebagian besar pelayanan rutin. Fokus dialihkan ke tindakan darurat: memindahkan pasien berisiko tinggi, menjaga pasokan oksigen, serta mengamankan ruang operasi dari kemungkinan kerusakan parah. Di titik itu, rumah sakit praktis lumpuh. Namun, justru pada fase paling kritis, solidaritas internal muncul secara spontan. Banyak tenaga kesehatan bertahan di lokasi meski rumah pribadi ikut terendam.
Dari sudut pandang manajemen risiko, fase lumpuh total rsud aceh tamiang membuka peta kerentanan tersembunyi. Instalasi listrik rendah, posisi gudang obat dekat area rawan genangan, sampai ketiadaan jalur evakuasi kering ketika curah hujan ekstrem. Bagi saya, ini alarm keras agar perencanaan fasilitas publik tidak lagi berpatokan pada data curah hujan masa lalu. Pola iklim berubah cepat, sedangkan infrastruktur kesehatan sering tertinggal beberapa langkah.
Begitu banjir surut, tahap paling melelahkan justru baru dimulai. Area rsud aceh tamiang dipenuhi lumpur tebal, aroma lembap menyengat ruangan, serta risiko jamur pada berbagai peralatan medis. Tim internal dibantu relawan mulai membersihkan lantai, memindahkan alat yang mungkin masih bisa diselamatkan, lalu memilah unit rusak total. Keputusan cepat diperlukan, karena terlalu lama menunggu sama dengan menunda layanan kesehatan untuk masyarakat yang bergantung pada rumah sakit ini.
Pemulihan rsud aceh tamiang berjalan bertahap. Awalnya hanya instalasi gawat darurat yang dibuka, dengan kapasitas lebih terbatas. Sebagian layanan rawat jalan dialihkan menjadi konsultasi singkat, fokus kasus urgent terlebih dahulu. Saat pasokan listrik stabil serta sanitasi membaik, barulah rawat inap mulai menerima pasien baru. Pola bertahap seperti ini menurut saya tepat, sebab memaksakan operasi penuh justru berisiko menghadirkan klaster penyakit baru akibat lingkungan yang belum sepenuhnya higienis.
Dari sudut pandang teknis, pengalaman pemulihan rsud aceh tamiang menunjukkan pentingnya rencana kontinjensi terukur. Misalnya, daftar prioritas alat yang harus segera difungsikan, skema peminjaman peralatan dari rumah sakit terdekat, juga kerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan suplai air bersih. Saya melihat ini sebagai kesempatan emas memperkuat jejaring kesehatan regional, bukan hanya mengandalkan satu fasilitas yang rentan kolaps ketika bencana kembali datang.
Penutupan sementara rsud aceh tamiang membawa konsekuensi nyata bagi pasien. Rujukan kasus darurat harus dialihkan ke rumah sakit di kota lain, menambah waktu tempuh yang bisa menentukan nyawa. Pasien kronis seperti penderita gagal ginjal atau penyakit jantung terpaksa menunda kontrol rutin. Fenomena ini memperlihatkan betapa sentralnya peran rsud aceh tamiang bagi rantai layanan kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang dan sekitar perbatasan.
Tenaga kesehatan menghadapi beban ganda. Mereka bukan hanya merawat pasien, tetapi juga menjadi korban bencana yang kehilangan rumah, harta, atau bahkan tempat tinggal layak. Namun banyak di antaranya tetap memilih datang ke rsud aceh tamiang, bergantian menjaga layanan minimal agar masyarakat tidak benar-benar kehilangan akses. Menurut saya, keberanian semacam ini sering luput dari sorotan, padahal menjadi tulang punggung pemulihan.
Di sisi psikologis, pengalaman bertugas saat fasilitas lumpuh meninggalkan jejak panjang. Stres berkepanjangan, rasa bersalah ketika tidak mampu menolong semua pasien, hingga kelelahan fisik akibat jam kerja melampaui batas. Ini alasan penting memasukkan dukungan kesehatan mental ke dalam program pemulihan rsud aceh tamiang. Bila tidak, kelelahan mental akan menumpuk menjadi gelombang resign tenaga kesehatan di masa mendatang.
Kebangkitan rsud aceh tamiang setelah banjir bandang memberi banyak pelajaran mengenai ketahanan sistem kesehatan daerah. Pertama, penataan lokasi fasilitas kritis jelas perlu evaluasi. Area parkir mungkin boleh tergenang, tetapi ruang ICU, farmasi, dan panel listrik wajib mendapat perlindungan ekstra. Penambahan tanggul kecil, pintu kedap air, atau peninggian lantai bisa menjadi solusi praktis berbiaya lebih rendah dibanding mengganti peralatan setelah bencana.
Kedua, rsud aceh tamiang memerlukan standar prosedur baku menghadapi banjir bandang, bukan hanya pedoman umum penanggulangan bencana. Setiap ruangan perlu tahu urutan prioritas ketika air mulai naik: apa yang diselamatkan dulu, kemana pasien dipindahkan, siapa yang berwenang memberi komando. Hal sederhana semacam simulasi rutin dapat mengurangi kepanikan, sehingga setiap menit menjelang puncak banjir digunakan secara efektif.
Ketiga, menurut saya pemerintah daerah bersama manajemen rsud aceh tamiang harus memanfaatkan momentum ini mempercepat digitalisasi. Rekam medis elektronik berbasis cloud, perencanaan stok obat terintegrasi, hingga sistem rujukan online bisa mengurangi kerugian ketika arsip fisik rusak. Bencana memang sulit dicegah sepenuhnya, tetapi dampak jangka panjang terhadap data kesehatan bisa ditekan bila transformasi digital digarap serius.
Kembali beroperasinya rsud aceh tamiang setelah lumpuh akibat banjir bandang bukan akhir kisah, justru awal babak baru. Peristiwa ini memperlihatkan kegetasan infrastruktur kita sekaligus kegigihan orang-orang yang menjaganya. Bagi saya, pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah kita akan menunggu bencana berikutnya, atau menjadikan luka kali ini sebagai dasar perubahan serius? Jika rsud aceh tamiang mampu bertransformasi menjadi rumah sakit yang lebih tangguh, terencana, dan berpihak pada keselamatan pasien, maka banjir bandang tidak hanya meninggalkan jejak kerusakan, tetapi juga warisan pembelajaran kolektif bagi seluruh daerah rawan bencana di Indonesia.
pafipcmenteng.org – Kasus terhentinya terapi untuk sekitar 160 pasien cuci darah akibat status pbi bpjs…
pafipcmenteng.org – Isu pbi nonaktif kembali jadi perbincangan hangat, terutama selepas sebuah video viral yang…
pafipcmenteng.org – Demam berdarah dengue tidak lagi identik dengan penyakit anak. Dalam beberapa tahun terakhir,…
pafipcmenteng.org – Banyak orang langsung meraih kopi atau teh begitu bangun tidur. Padahal, ada kebiasaan…
pafipcmenteng.org – Kabar bahwa setiap dua menit satu warga Indonesia meninggal akibat kanker seharusnya mengguncang…
pafipcmenteng.org – Ketika membahas tumbuh kembang gigi anak, banyak orang tua lebih fokus pada pasta…