Categories: Mental Health

Bullying PPDS Unsri: Alarm Serius untuk Health Pendidikan Dokter

pafipcmenteng.org – Kasus bullying di program pendidikan dokter spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Unsri kembali membuka luka lama tentang rapuhnya health ekosistem pendidikan kedokteran Indonesia. Publik dikejutkan ketika pelaku perundungan hanya menerima teguran tertulis, sementara tekanan psikologis korban jauh lebih besar. Kementerian Kesehatan lalu mendorong sanksi lebih berat, menandai pergeseran sikap negara terhadap kekerasan terselubung di lingkungan kampus kedokteran.

Peristiwa ini bukan sekadar konflik internal, tetapi cermin buruk health budaya belajar calon dokter. Bagaimana mungkin tenaga kesehatan diajarkan empati pada pasien, namun justru dibiarkan saling melukai di ruang pendidikan. Bila bullying terus dinormalisasi, mutu dokter masa depan akan terancam, bukan dari kurangnya ilmu, tetapi dari rusaknya karakter. Di titik ini, tuntutan sanksi tegas menjadi keharusan etis, bukan hanya respons administratif.

Bullying di PPDS: Luka Tersembunyi di Balik Jas Putih

Program PPDS dikenal keras, melelahkan, serta sarat tekanan. Jam kerja panjang, tuntutan akademik tinggi, tanggung jawab klinis besar. Namun keras tidak harus berarti kejam. Banyak laporan tidak resmi menyebut perundungan berupa bentakan, penghinaan, tugas tidak masuk akal, hingga pengucilan. Selama bertahun-tahun, ini sering dibungkus narasi “tradisi pembentukan mental” demi health profesionalitas.

Narasi tersebut berbahaya. Ia membuat kekerasan terlihat wajar, seolah bagian normal proses pendidikan. Atasan merasa berhak memukul mental junior, senior merasa sah menciptakan teror emosional. Dalam jangka panjang, korban bisa mengalami gangguan mental, kelelahan emosional, bahkan trauma. Ironisnya, mereka justru disiapkan menjadi penjaga health masyarakat, sementara health psikologis pribadi diabaikan.

Kasus di Unsri menembus permukaan gunung es itu. Reaksi Kementerian Kesehatan yang meminta sanksi lebih berat menunjukkan pengakuan bahwa teguran tertulis tidak sebanding dampak perundungan. Di sini terlihat perubahan paradigma: kekerasan di pendidikan dokter bukan lagi “urusan internal kampus”, melainkan problem sistemik yang mengancam mutu health layanan publik. Negara mulai menyadari, bila akar tidak sehat, buah profesi juga akan bermasalah.

Sanksi Teguran: Terlalu Ringan untuk Dampak Sebesar Itu

Pemberian teguran tertulis kepada pelaku bullying menimbulkan kekecewaan luas. Sanksi minimal seperti ini memberi sinyal keliru: bahwa perundungan hanyalah pelanggaran kecil. Padahal korban menanggung beban mental berat, sering kali tanpa dukungan memadai. Bagi publik, ketimpangan antara akibat dan sanksi menurunkan kepercayaan terhadap komitmen health institusi pada keselamatan psikologis peserta didik.

Dari sudut pandang pribadi, sanksi lemah justru memperpanjang siklus kekerasan. Pelaku merasa aman, calon pelaku lain menganggap risiko rendah, korban ragu melapor. Kultur fear-based leadership tetap hidup. Bila tujuan pendidikan dokter adalah membentuk profesional berempati, maka hukuman perlu mencerminkan nilai moral tersebut. Sanksi tegas bukan balas dendam, melainkan mekanisme koreksi health budaya lembaga.

Kementerian Kesehatan meminta peninjauan ulang sanksi agar lebih proporsional. Ini langkah penting, meski terlambat. Idealnya, standar sanksi pelanggaran etik di pendidikan kedokteran diatur jelas, transparan, serta terukur. Termasuk kemungkinan skorsing, penundaan kelulusan, hingga pencabutan hak mengikuti program. Pesan utama harus tegas: merusak health psikologis rekan sejawat tidak bisa ditoleransi dalam profesi penyelamat nyawa.

Membangun Budaya Health Aman di Pendidikan Kedokteran

Perubahan sesungguhnya tidak cukup lewat sanksi; perlu perombakan budaya. Fakultas kedokteran mesti membangun sistem health yang menjamin keamanan fisik dan mental residen. Wadah pelaporan rahasia, pendampingan psikologis, pelatihan komunikasi asertif, hingga evaluasi rutin iklim kerja wajib diterapkan. Senior harus dilatih memimpin tanpa kekerasan, dosen diberi indikator kinerja yang menilai aspek kemanusiaan, bukan cuma capaian ilmiah. Bila ruang pendidikan dokter menjadi lingkungan kerja sehat, pasien di ujung layanan akan merasakan manfaatnya.

Pada akhirnya, kasus bullying PPDS Unsri adalah pengingat keras bahwa health bukan sekadar bebas penyakit, tetapi juga bebas kekerasan. Kita perlu jujur mengakui, sebagian tradisi lama di dunia kedokteran sudah usang serta berbahaya. Normalisasi perundungan harus dihentikan, diganti model pendidikan berbasis respek, keadilan, serta dukungan emosional. Refleksi terpenting: apa arti gelar dokter bila diraih dengan mengorbankan kemanusiaan teman sejawat. Bila ingin sistem health nasional kuat, perbaikan mesti dimulai dari ruang kelas, bangsal, serta kamar jaga tempat dokter muda ditempa.

Jefri Rahman

Share
Published by
Jefri Rahman

Recent Posts

PBI BPJS Bermasalah, Pasien Cuci Darah Jadi Korban

pafipcmenteng.org – Kasus terhentinya terapi untuk sekitar 160 pasien cuci darah akibat status pbi bpjs…

9 menit ago

Mengapa Status PBI Nonaktif Bisa Mendadak Viral?

pafipcmenteng.org – Isu pbi nonaktif kembali jadi perbincangan hangat, terutama selepas sebuah video viral yang…

4 jam ago

Demam Berdarah pada Dewasa: Alarm Baru health

pafipcmenteng.org – Demam berdarah dengue tidak lagi identik dengan penyakit anak. Dalam beberapa tahun terakhir,…

6 jam ago

5 Alasan Wajib Minum Air Putih Saat Perut Kosong

pafipcmenteng.org – Banyak orang langsung meraih kopi atau teh begitu bangun tidur. Padahal, ada kebiasaan…

12 jam ago

Kanker Payudara: Alarm Setiap Dua Menit

pafipcmenteng.org – Kabar bahwa setiap dua menit satu warga Indonesia meninggal akibat kanker seharusnya mengguncang…

1 hari ago

Manfaat Dot Orthodontic 1 untuk Senyum Sehat Si Kecil

pafipcmenteng.org – Ketika membahas tumbuh kembang gigi anak, banyak orang tua lebih fokus pada pasta…

1 hari ago